Tantangan ODOP (3)
Membuat analogi
Areta & Marita
(Episode yang telah lama terlupakan)
Selalu ada saja yang ingin kutulis melihat
tingkah polah dua peri kecilku ini. Namun entah, aku selalu merasa kehabisan
waktu. Saat bersama mereka, waktu berlalu begitu cepat. Tapi kali ini aku tak
akan membiarkan waktu meninggalkanku. Kebersamaan bersama buah hatiku adalah
impianku sejak dulu saat kami belum menikah.
Dalam bayanganku, aku akan merawat
anak-anakku dan membesarkannya sendiri. Benar-benar sendiri tanpa bantuan orang
lain. Tapi tentu saja suamiku harus selalu ada bersamaku.
Aku bersyukur mendapat suami yang
pengertian. Dia mengerti kerepotanku saat Marita mengganggu Areta yang sedang
belajar atau keusilan Areta menyembunyikan mainan adiknya. Dia tidak marah
karena saat itulah aku akan mengacuhkan dia. Bukan, bukan aku sengaja. Hanya
saja aku tidak ingin periku yang cantik, salah satunya akan terluka.
Areta memang sudah bersekolah, tetapi dia
masih membutuhkan aku untuk menemaninya belajar. Adapun Marita, masih terlalu
kecil jika kubiarkan tidur sendirian di kamar tanpa kutemani. Aku tak mau
nyamuk-nyamuk nakal itu menyisakan ruam-ruam di kulitnya yang lembut.
Seperti hari ini, Areta pulang sekolah
dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagaknya seperti bunga yang lama tidak
disiram. Layu sungguh tidak menarik. Aku diam saja sambil mengajak Marita
bernyanyi Pelangi. Setelah meletakkan tas dan mengganti bajunya, Areta
menghampiriku.
“Bunda, kenapa sich Allah itu menciptakan
banjir?” tanyanya dengan muka ditekuk.
Aku kaget dengan pertanyaan itu. Bagaimana
mungkin anak kelas 2 SD sampai berpikiran seperti itu? Tampaknya ada sesuatu di
sekolahnya yang menggelitik pikiran peri kecilku ini.
“Areta kenapa Tanya seperti itu? Tadi di
sekolah banjir?”
“Bukan Bunda. Tadi ada pelajaran IPA. Bu
guru ngasih liat gambar orang-orang yang rumahnya kebanjiran. Areta kasihan,
kalo banjir tidurnya dimana? Rumahnya aja tenggelam ndak kelihatan. Mau makan
ga ada meja makannya, kan susah Bunda.”
“Oh jadi karena itu. Tadi Ibu guru
menjelaskan ke Areta seperti apa?”
“Kata Bu Guru, banjir itu karena kita
membuang sampah sembarangan. Terus ada hujan deraaaas banget. Akhirnya
selokannya penuh makanya banjir.”
“Berarti dari cerita Areta tadi, yang salah
siapa?”
“Manusia.” Jawabnya polos.
“Manusianya kan? Itu artinya pertanyaan nya
bukan kenapa Allah menciptakan banjir, tetapi kenapa manusia membuang sampah
sembarangan sehingga saat hujan bisa terjadi banjir. Allah menciptakan hujan
juga ada maksudnya.”
“Biar tanaman bisa minum ya Bunda?”
“Nah tuh pinter anaknya Bunda. Hujan itu
adalah rejeki yang diberikan Allah kepada semua makhluk. Nah banjir itu adalah
salah satu akibat karena kelalaian manusia. Sudah paham sayang?”
“Iya Bunda. Makasih ya. Berarti kalo waktu
hujan, Areta maen hujan-hujanan boleh ya? Kan biar dapet rejekinya Allah?”
“Wah ternyata ada maunya ya?” kataku sambil
menggelitik Areta.
Marita yang melihat ku menggelitik kakaknya
segera ikut menyerbu.
#BerkaryaUntukKeabadian
#OneDayOnePost #MenulisSetiapHari (Hutang Februari)

Waduhhh... Anak SD jaman sekarang kritis2 ya mbak. Emaknya harus lebih pintar dalam menjawab.
BalasHapusSetuju mbak. semoga bisa jadi pelajaran buat para emak-emak agar terus belajar
HapusAda pelajaran bagus
BalasHapusTerima kasih sudah mampir... semoga bermanfaat
Hapus