(Lanjutan dari kisah sebelumnya, saat Bunda menyewa seseorang untuk mengamati Areta di sekolah. Inilah jawaban siapa yang selama ini membuntuti Areta. Simak terus ya)
“Wah si Bos ngasih kerjaan ga umum.
Masak sich, aku harus ngikutin anak kecil terus. Kayak ga ada kerjaan aja.
Fiuh.” Audrey menutup teleponnya, begitu terdengar perintah dari seberang.
©©©©©©©©©
Awal pertemuan dengan
Agen D
Tak ada yang pernah menyangka bahwa
agen D atau Audrey atau Drey adalah seorang agen rahasia. Umurnya baru 15 tahun.
Gayanya yang ceplas ceplos saat sedang tak bertugas menjadi modal yang kuat
dalam penyamarannya. Di sekolah, dia termasuk anak berprestasi. Bahkan pernah,
dia menjuarai sebuah lomba esai yang syaratnya pun ada yang belum terpenuhi.
Namun karena kecerdasannya ia malah berhasil menyabet juara pertama.
Aku pun secara tak sengaja bertemu dengannya.
Waktu itu aku berdua dengan anakku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Namanya
juga ibu-ibu rempong, salah satu tas belanjaanku ada yang tertinggal. Karena panic,
aku pun anya berputar-putar di tempat terakhir aku berbelanja. Areta sudah
berniat membantu untuk mencari, sementara Marita menatapku dengan wajah
bingungnya. Sebenarnya aku sudah berpikir untuk menelusuri rute yang tadi kami
lewati. Namun karena terlalu banyak belanjaan dan saat itu aku pun sedang
menunggu suami ku menjemput. Aku tak berani melakukannya.
Lalu tiba-tiba ada seorang memakai
topi pink dan dikepang 2 menghampiriku. Sepertinya dia telah lama mengamati
tingkahku. Dan benar saja.
“Ibu sedang mencari apa? Ada yang
bisa bantu?” tanyanya dengan sopan.
“Ini, tadi ibu habis berbelanja,
lalu salah satu kantongnya ada yang terlupa. Mau mencari tapi takut nanti
ayahnya kebingungan. Sebentar lagi sudah mau menjemput.”
“Kalau boleh tau belanjaan yang
mana yang ketinggalan?”
“Waduh, saya lupa. Hanya saja,
harusnya ada 6 kantong tapi ini cuma tersisa 5 kantong. Berarti ada satu yang
tertinggal.” Kataku menjelaskan.
Dia mulai menggigiti bibir
bawahnya. Seolah sedang berpikir keras. Lalu tatapannya mengamati
kantong-kantong belanjaanku satu persatu.
“Ibu tadi belanja apa saja?”
Beruntung aku selalu mencatat
setiap belanjaan yang akan aku beli. Kemudian dia mengambil bolpoinnya yang
lucunya juga berwarna pink senada dengan pakaian yang sedang dia kenakan. Dia
pun mulai mengelompokkan belanjaanku, sambil sesekali pandangannya berkeliling
menyapu sekitar. Lalu dia pun mulai mengamati belanjaan ku satu persatu.
“Ehm, sepertinya ibu ndak
ketinggalan dech. Ini ada 1 kantung yang
berbeda. Tampaknya ini adalah kantong ke 6 yang kata ibu tertinggal atau
hilang.” Katanya sambil mengeluarkan 1 kantong berwarna putih yang berisi
perlengkapan mandi Marita.
“Lho kok bisa disitu?” Kataku
dengan wajah penuh tanya.
“Mungkin ibu lupa setelah
berbelanja tadi, karena terlalu rempong dengan bawaan lalu memasukkan ke dalam
kantong yang lebih besar. ”
“Ah, saya ingat. Tadi kantong itu
dibawa Areta. Lalu karena saya takut nanti malah tertinggal maka saya jadikan
satu dengan kantong yang lain. Makasih
ya Dek, sudah membantu saya. Namanya siapa?”
“Saya D, ini kartu nama saya.”
Katanya sambil menyodorkan kartu nama yang lagi-lagi berwarna pink.
Disitu tertera sebuah nama Audrey atau
Agen D. sebuah tulisan kecil tertera dibawahnya. Intelejen berbaju PowerRanger.
Aku tersenyum kecil, sambil memasukkan kartu nama itu ke dalam dompetku.
Agen D, mungkin suatu saat nanti
kita akan bisa bekerja sama.
#BerkaryaUntukKeabadian #OneDayOnePost #MenulisSetiapHari.