Sabtu, 30 Januari 2016

‪#‎ODOP‬ ‪#‎harikeduabelas‬

Hari itu aku sedang duduk senrian di teras rumah. 
Suasana begitu sepi. Entah kemana bocah-bocah yang biasanya berlarian kesana kemari. Entahlah.

Angin perlahan bertiup menentramkanku. Tiba-tiba datang seorang pria setengah baya. Pakaiannya sederhana tapi terlihat bersih. Di pundaknya bertengger gitar kusam yang ku tera usianya tak jauh beda dengan si empunya. Pria itu menundukkan wajahnya seolah menyapaku. 
Kemudian dia bernyanyi. 

Suaranya tak merdu tapi terdengar penuh penjiwaan. Lagu musisi iwan fals, ibu. Aku mendadak teringat sudah dua hari ini aku tak menghubungi ibu. Pekerjaan dan deadline mengusik pikiranku. Tanpa sadar lagu itu usai. Buru-buru aku masuk ke dalam mengambil selembar uang. Saat ku berikan dia tampak kaget. Selembar uang seratus ribuan telah berpindah tangan. Terima pak telah mengingatkanku betapa aku sangat membutuhkanmu.ibu

‪#‎ODOP‬ ‪#‎harikesebelas‬

Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah. 
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. 
Teringat sepenggal lagu d' masive. 

Mengajarkan kita menerima keterbatasan. Bukan hanya fisik, tapi tentang materi, tingkat pendidikan, juga pekerjaan. FABIAYYI ALA IROBBIKUMA TUKADZIBAAN. Sebuah ayat yang mengajari untuk selalu bersyukur. ALLAH punya masing-masing rejeki yang sudah diatur. Dia tahu mana yang terbaik untuk ummatnya. LAHAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH

Ada kala kita merasa kurang atas apa yang kita miliki. Wajar, karena Allah beri nafsu juga akal. Malaikat tak punya nafsu dan hanya patuh pada Allah. Kita punya akal dan nafsu yang membuat kita selalu menghadapi 2 pilihan. Memilih untuk berbuat baik atau sebaliknya.

Kita juga memilih menjadi apa yang kita inginkan, guru, polisi, dokter dan lainnya. Semua profesi karena nafsu, nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, memperoleh kepuasan, juga berbagi dengan sesama.

Mari kita olah nafsu yang kita miliki ke arah yang baik, jangan sampai kita terjerumus karena nafsu yang jelek dan merugikan kita. 



Jumat, 22 Januari 2016

Jagoan Kecil

Sekolah adalah tempat anak untuk belajar. Bersosialisasi dengan teman, menemui hal baru, dan banyak aktifitas lainnya. Seperti keponakanku satu ini. Dia sedang serius berlatih. Jangan dilihat umurnya ya. Tendangannya lumayan ampuh. Pak, pak, pak... seru sekali.
Jangan coba ganggu ya bisa-bisa tendangan mautnya bikin kita terhuyung-huyung.
Umur boleh kecil, tapi semangatnya sangat besar. Kalo sudah waktunya latihan, bunda pun bakalan di lupakan.
Sehat terus ya... mas Asraf. Jadi anak yang sholeh, pinter, jadi kebanggaan ayah dan bunda, jadi kakak yang baik buat dedek Nouval.
Antiek suka kangen kalo lihat fotonya. Semoga liburan nanti bisa ketemu yach... ^_^

Sebuah Pengabdian. #ODOP #harikesembilan

Setiap kita memiliki kesempatan untuk memuat pilihan, ingin menjadi apa kita nanti. Ada yang menjadi dokter, polisi, pegawai, guru, dan banyak profesi lain yang tidak saya sebutkan. Namun apakah menjadi seorang ibu rumah tangga juga bisa disebut sebagai profesi?
Tak sedikit dari kita yang membuat pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga. Mengasuh anak, membesarkan, mengurus rumah dan tetek bengek lainnya. terlihat sepele memang. Tapi apakah semudah itu pekerjaan seorang ibu?
Saat pagi, ketika semua penghuni rumah belum bangun ibu sudah memulai aktifitas. Menanak nasi saat air kran masih dingin, tapi dia tetap melakukan. Demi agar semua anggota keluarga bisa menikmati sarapan. Membuat sayur, memasak lauk. Satu demi satu pekerjaan sudah terselesaikan. Lalu, apa ibu akan istirahat? Hendak santai si kecil bangun minta ditemenin. Itu jika buah hati masih kecil. Akhirnya pekerjaan ditinggalkan. Tak lama berselang, ibu merebus air untuk mandi si kecil. Kemudian menemani ayah sarapan,  yang juga telah bersiap. Untunglah ayah maklum saat ditinggal-tinggal ibu ketika di meja makan. Si kecil ingin bermain.Akhirnya ayah pun berangkat kerja. Si kecil masih bermain.
Ibu ingin mencuci baju, tapi si kecil tak mau ditinggal. Daripada meninggalkan sendirian, ibu memilih menggendong sambil mencuci. Beruntung ayah mempunyai rejeki, sehingga ibu bisa mencuci dengan mesin cuci. Si kecil bosan dalam gendongan. Dia menangis minta turun. Akhirnya cucian yang tinggal jemur masih setia dalam mesin cuci. Lagi-lagi si kecil minta bermain.
Ibu hanya menghela napas melihat sekeliling rumah. Si kecil masih sangat bersemangat. Sementara cucian menunggu untuk dijemur. Lantai pun mengantri ingin di sapu. Tapi bunda masih menemani si kecil.
Menjelang siang, ibu mulai lelah. Si kecil pun menguao beberapa kali. Kesempatan buat ibu mengajak si kecil ke kamar. Ditidurkannya dengan sayang. Tak lama si kecil pun tertidur. Apa ibu juga ikut menemani?
Ibu memilih turun dari pembaringan dengan perlahan. Membuka mesin cuci dan mulai menjemur baju satu persatu, baju kerja ayah, si kecil, dan beberapa baju ibu. Akhirnya lantai pun mendapat giliran. Mainan dibereskan, lantai dibersihkan. Rumah pun terlihat lebih bersahabat. Apa ibu bisa istirahat?
Ibu mulai memasak. Untuk ayah saat pulang kerja  Hendak mengambil piring, si kecil terbangun kehausan. Ibu ke kamar dan membuat susu. Bukannya tidur, si kecil ingin ikut ibu. Akhirnya ibu makan sambil menggendong si kecil.
Hari menjelang sore. Teras juga harus disapu. Si kecil tak jua mau turun dari gendongan. Memilih memeluk ibu sambil bermanja-manja. Ibu menyiram bunya, menyapu teras sambil menggendong. Waktunya mandi sore, ibu merebus air. Si kecil pun terlihat senang. Bermain air bersama ibu.
Sepeda motor ayah memasuki halaman. Ibu dan si kecil menyambut dengan senyuman.

Kamis, 21 Januari 2016

Memulai lagi... #ODOP #harikedelapan

Sangat sulit ketika kita memulai sesuatu yang sudah lama kita tinggalkan. Terasa berat pada awalnya tapi kemudian semua menjadi terasa ringan. Menulis adalah bukan hal yang baru bagiku. Aku ingat ketika dulu pertama kali menulis. Sebuah puisi saat aku masih kecil. Aku sendiri lupa apa judulnya. Namun sejak saat itu aku merasa bahwa membuat tulisan adalah sesuatu bagiku.
Saat aku menginjak kan kaki di sekolah menengah, hampir aku lupa jika aku pernah menulis. Menghasilkan suatu karya. Namun sekali lagi saat pementasan di sekolah, aku menulis sebuah naskah. Naskah sebagai tugas akhir dalam pelajaran bahasa Indonesia. Kali ini aku ingat ceritanya Parodi kisah Cinderela. Cinderella tak pernah menikah dengan Pangeran tampan. Dia harus menelan pil pahit karena sepatu yang seharusnya muat di kakinya tidak bisa dia pakai. Kakinya terkilir ketika terjatuh. Aku serig tersenyum sendiri saat mengingatnya. Mengingat betapa liarnya imajinasiku saat itu.
Memasuki dunia kampus aku menemukan dunia yang baru. Teman baru. Kesibukan baru. Tapi aku tak pernah bisa melupakan tulisan. Aku sempat mengikuti lomba karya ilmiah meskipun baru sekali menjadi finalis, serta beberapa lomba cerpen yang entah sudah berapa kali aku ikuti. Tapi lagi-lagi aku belum kapok. Kapok menjadikan tulisan sebagai passion ku. Meskipun saat ini aku juga sedang berkutat dengan aneka kreasi yang terkadang bagi orang lain pun dianggap tidak mungkin. Mungkin aku nyeleneh, tapi inilah aku. Seorang dengan segala pikiran yang selalu bermain di otakku. Dengan segala rasa inginku. Inilah aku, yang selalu ingin menjadikan tulisan sebagai bagian dari kehidupanku. Selamat memulai kembali apa yang dulu pernah terjadi.

Selasa, 19 Januari 2016

‪#‎odop‬ ‪#‎hari‬ keenam Episode Areta dan Marita (1)


Hari ini aku belajar tentang keiklasan. 

Ketika seharian harus berkutat dengan pekerjaan rumah. Mengerjakan banyak hal mencuci piring, mengepel, mencuci baju juga memasak. Saat ingin rehat sejenak memberi hak pada tubuh ini ternyata Allah berkehendak lain. 

Hujan turun tanpa diduga. Aku teringat jemuranku. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar. Kuambil satu per satu baju yang mulai mengering. Hujan makin deras, kuambil salah satu baju untuk menutupi kepalaku. Akhirnya semua baju itu berhasil kuangkat. 

Belum lama berselang ada suara gaduh dari pintu depan. Ternyata Areta, putri pertama ku datang. Bajunya kuyub. Rupanya dia tak sendirian. Ada beberapa temannya ikut pulang. Oh karena hujan mereka berteduh. Tak ayal teras dan ruang tamu basah oleh air dan lumpur. Dan aku hanya bisa mengelus dada... 

*bersambung.tunggu kisahnya ya
#ODOP ‪#‎harikeenam‬

Sabtu, 16 Januari 2016

‪#‎ODOP‬ ‪#‎harikelima‬


Malam ini aku resah. Bukan tentang jeruk ataupun sate tapi tentang kamu. Iya kamu yang sedari tadi menatapku. Tatapanmu memang manis. Mereka yang melihatmu tak bisa ingkar dari pesonamu. Hai kamu, iya kamu. Tak tahukah jarum itu mengarah ke kanan tapi masih juga kau ingin menggodaku. Melihatmu aku terpaksa berpaling. Biarlah untuk saat ini kurelakan kau dengan dia. Hingga saat itu tiba. Tunggulah. Aku akan menemuimu saat jarum mengarah ke kiri. Selamat malam yang tersayang. Tetaplah nyaman di tempat kau seharusnya. Janganlah kau meleleh, ingatlah ku pasti akan datang. Hmmm nyummy. m*gn*m almond saat hujan gerimis. Tamat

Jumat, 15 Januari 2016

‪#‎odop‬ ‪#‎harikeempat‬

Hari ini hampir seharian ini ada berita pengeboman di kawasan thamrin, jakarta.

Sedih sekali setiap mendengar atau membaca berita ini. Entah apa yang dipikirkan pelaku saat memutuskan untuk bertindak demikian. Namun, bukan ini yang saya bahas. Saya membayangkan bagaimana keluarga para korban yang ditinggal. Entah itu suami, ayah, anak dari keluarga mereka. Betapa sedihnya mereka begitu tahu orang yang disayang tinggal nama. Apalagi keluarga harus pergi dengan kondisi yang mengenaskan. 

Allah, tak sadarkah mereka ada banyak air mata menetes karena ulah mereka, tak sadarkah mereka ada anak yang menangis memanggil ayah mereka. 
Allah...aku hanya satu dari sekian banyak makhluk ciptaanMu. yang merindukan damai, tentram, dan kerukunan di bumi ini.
Allah semoga kamibisa mengambil hikmah dari setiap persoalan..semoga kami mendapat kesabaran.keridhoan atas apa yang kami hadapi. 
Allah semoga selalu Kau berikan kesehatan, keselamatan untuk seluruh masyarakar indonesia.
seluruh pemimpin kami.
Amiin

Mengenai Saya

Foto saya
rame, suka ngobrol