Entah siapa waktu itu yang memulai saya sendiri juga lupa. Mungkin jika ada yang mengingatnya, ini adalah cerita tentang KUCING, KRISPI, KERUPUK, dan KERONTANG. Selamat Menikmati....
Sore ini aku menikmati "me " time. Areta sedang mengikuti kegiatan di sekolahnya. Marita setelah capek bermain gelembung di halaman, terlihat nyenyak tidur di kamar. Semilir angin tak mampu menusir cuaca panas di musim kemarau ini. Beberapa tanaman yang belum sempat ku sentuh beberapa daunnya mulai berguguran. Kering kerontang seolah tumbuh di tempat nun jauh dimana.
Aku sendiri mulai lupa kapan terakhir aku meluangkan diri untuk merawat mereka. Aku masih ingat saat mantan kekasihku pertama kali mengajak ku datang ke rumah ini. Lebih tepatnya mungkin sebuah kejutan. Sebelumnya dia tidak pernah bercerita kalo memiliki rumah. Bukan sebuah rumah yang besar tapi cukup untuk keluarga kecil kami. Waktu itu aku sedang mengandung Areta. Pernikahan kami pun belum genap 1 tahun. Namun yag aku suka adalah halamannya yang luas. Aku pun segera membayangkan memiliki aneka tumbuhan hijau. Benar-benar hijau. Serta sayur mayor seperti tomat, cabe, kemangi dan banyak lagi.
Niat itu memang terlaksana sampai aku mengandung Marita. Mungkin karena terlalu lelah, aku sudah tidak sempat mengurus tanaman itu setiap hari Hanya saat hari libur baru bisa merawatnya, itu pun dengan dibantu Mas Ridi. Apalagi kehamilanku kali ini berbarengan dengan musim kemarau yang agak panjang. Sedikit saja aku lelah, terpaksa mengijinkan tubuh ini rebah.
Di teras ini pula aku sempat menggelar daganganku. Camilan kripik kiloan yang aku kemas sedemikian rupa. Orientasinya bukan untuk pekerjaan. Hanya untuk mengisi waktu sambil menemani Areta di rumah. Namun seiring pekerjaan suamiku yang semakin berat, aku pun sedikit mengurangi. Maklum biasanya mas yang membeli kripik sesuai dengan permintaanku. Tapi karena waktuya terbatas, aku pun harus mulai berpikir cerdas. Kalau sebelumnya ada banyak jenis kripik yang dijual, sekarang aku hanya focus pada satu jenis. Kripik singkong yang diberi perisa yang aku racik sendiri. Aku tertarik dengan kripik ini karena rasanya yang krispi. Sebelumnya sempat terpikir untuk menjual kerupuk tapi setelah melalui banyak pertimbangan, kami memilih kripik singkong.
Lamunanku terhenti seiring suara kucing yang tampak semangat mengejar buruannya. Tak biasanya ada tikus mampir ke sini. Tapi untungnya sudah ada satpam gratis yang siap sedia jika ada tikus yang lewat. Aku teringat Marita di kamar. Jangan sampai ia terbangun dan menyadari aku tidak ada di sampingnya.
#BerkaryaUntukKeabadian #OneDayOnePost #MenulisSetiapHari
(hutang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar