Duet Sakit gigi (Eposide
1)
Bangun
tidur aku merasakan ngilu di gigi yang sangat mengganggu. Rasanya untuk bicara
pun susah. Namun kalo tidak ingat kewajiban membuat sarapan untuk keluarga,
mungkin aku memilih bergelung dengan selimut sambil menikmati pelukan gigi yang
menyiksa. Akhirnya sambil menahan sakit, aku pun beranjak dari pembaringan.
Kulihat suamiku sudah tak ada di pembaringan, sepertinya dia sudah bergelut
dengan kekasih barunya, Lepi. Sejak kami menikah, jika dia bangun lebih awal
aku sudah hapal. Pastinya dia memiliki banyak pekerjaan yang harus
diselesaikan. Benar saja, aku melihat dia sudah serius menatap layar lengkap
dengan piyamanya.
Aku
melanjutkan aktifitasku seperti biasa. Menyalakan kompor untuk merebus air lalu
mulai menanak nasi. Sempat beberapa lama ngilu ini tak terasa. Mungkin karena
terlalu serius aku mempersiapkan semuanya. Menu hari ini adalah tumis wortel,
buncis, sosis plus pentolnya. Lauk pelengkapnya adalah bandeng goreng tanpa
duri. Berhubung suamiku dan anak-anak penggemar bandeng, aku memilih yang tanpa
duri. Agak mahal memang tapi sebanding dengan kepuasan saat memakannya.
Rupanya
Areta terbangun mendengar kesibukanku. Dia duduk di kursi pendek atau lazim
disebut “dingklik”. Kepalanya masih terantuk-antuk. Nampaknya ia masih
mengantuk. Aku membiarkannya sambil mulai mengangkuti masakan yang telah siap.
Aroma yang menggoda membuat matanya perlahan terbuka.
“Bunda,
pasti tumis bakso ya? Hmm, nyummy.” Katanya dengan mimic lucu.
Aku
mengangguk.
“Areta
ndak ngantuk? Ini masih belum shubuh kok sayang.”
“Areta
ingin bantu Bunda.”
Katanya
sambil mengerucutkan bibirnya.
“Iya
boleh, kalo Areta mau bantu Bunda. Coba lihat dedek udah bangun belum. Tadi
Bunda lupa belum bikinkan susu botol.”
“Siap
kapten.” Katanya sambil mengacungkan tangan kanannya dan menempelkan di pelipis
seperti posisi hormat.
Aku
tertawa melihat kekonyolannya. Dan ups, tampaknya gigiku tak terlalu suka
dilupakan. Mendadak rasa ngilu datang lagi. Aku meringis menahan sakit.
“Semoga
Marita belum bangun.” Begitu doaku dalam hati.
Air
rebusan sudah mendidih. Aku segera menuangkannya ke dalam gelas besar yang
berisi the pahit tanpa gula.
Sejak
dulu sudah menjadi kebiasaan suamiku untuk meminumnya saat pagi sebelum
sarapan. Menurutnya meminum teh pahit tanpa gula, dapat menjaga kesehatannya.
Ini berbeda denganku. Lebih enak meminum teh manis hangat daripada teh pahit.
Tapi karena ddari yang aku baca, minuman ini tidak terlalu bagus untuk
anak-anak. Maka aku jarang menyajikannya, kecuali saat di rumah ada acara atau
ketika ada tamu.
Areta
datang menghampiri setelah melihat adeknya.
“Dedek
belum bangun Bunda. Tapi waktu kakak ciumi ih malah mewek sambil bilang
atit-atit. Gitu.”
“Lah
mana yang sakit?”
Aku
segera beranjak ke kamar. Rupanya rintihan Marita membuat suamiku beranjak.
Kulihat dia tengah menenangkan Marita dengan menggendongnya. Tapi Marita Nampak
tidak nyaman. Dia menggeliat-geliat membuatku semakin khawatir.
“Sini
biar aku gendong, mas sholat shubuh dulu saja sekalian siap-siap. Sarapan udah
tak siapin juga. Minta tolong ya temenin Areta juga.”
“He…eh”
Mereka berdua pun berlalu meninggalkanku dengan Marita.
“Atit-atit.”
Katanya sambil meringis.
“Mana
yang sakit?” Tanyaku sambil menggendong dan membelainya.
Dia
mengelus pipinya yang basah terkena air mata.
Wah
jangan-jangan Marita sakit gigi? Hem, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku
akan menghabiskan hariku nanti. Bunda sama anak, berdua sakit gigi. Ya Allah,
semoga nanti dia tidak panas. Kalo rewel itu pasti asalkan jangan sampai demam.
Semoga saja.
(Bersambung)
#BerkaryaUntukKeabadian #OneDayOnePost #MenulisSetiapHari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar