Rabu, 16 Maret 2016

#ODOP Episode Areta & Marita (Episode sakit gigi-habis)





 Sehari bersama Marita

                Marita tampak gelisah. Sejak Mas Ridi berangkat kantor sembari mengantar Areta, Marita sama sekali tak mau ditinggal. Baju kotor sudah masuk mesin cuci tinggal dibilas. Cucian piring sarapan tadi pagi masih belum tersentuh, masih menumpuk di wastafel. Hmm, kalo aku tak sedang sakit gigi lain persoalan. Tapi kali ini menghadapi Marita yang tak nyaman membuatku sedikit kesal. Namun aku hanya bisa menahannya. Toh siapa pula yang akan menolongku. Memang sejak awal aku selalu menolak saat ditawarin assisten rumah tangga. Selama ini aku masih bisa mengurus semuanya sendiri.
                Akhirnya demi mengurangi rasa sakit ini, aku pun segera meminum pereda sakit. Marita tampak kusut duduk di depan tivi. Mainan masak-masakannya berserakan, tak satupun dia sentuh. Untungnya tadi aku sempat merebus air untuknya mandi. Setidaknya badannya tak terlalu lengket setelah bangun tidur. Aku pun tak selera untuk sarapan. Padahal sebelum berangkat, suamiku sudah mengingatkan agar jangan sampai terlambat makan. Aku memang suka lalai untuk urusan makan, yang penting urusan rumah beres perut pun terasa kenyang. Ini sich menurutku. Apalagi saat gigi senut-senut seperti sekarang, makanan enak pun terasa tak ada minat.
                Aku nyalakan VCD kesukaan Marita, lagu anak-anak. Perhatiannya mulai teralih. Tangan dan kepalanya bergoyang mengikuti irama. Alhamdulillah sakit gigiku pun mulai berkurang. Dia tampak menikmati alunan penyanyi cilik di tivi. Perlahan aku beranjak ke dapur. Mulai mencuci piring kotor yang beberapa lama tak terjamah, mulai membilas satu persatu baju di mesin cuci. Baju anak-anak sengaja ku pisahkan dari bajuku dan suamiku, tujuannya agar memudahkan saat menjemur. Setelah semua beres, aku kembali menghampiri Marita. Dia masih asyik bergoyang, sesekali tangannya memainkan wajan dan sendok plastic diatas kompor yang juga plastic. Gayanya serius seperti tengah memasak. Tampaknya karena terlalu sering menemaniku di dapur saat memasak, dia pun mahir menirukan.
                “Mam, Nda. Mam.” Katanya sambil menyodorkan sendok seolah sedang menyuapiku.
                “Aem, aem. Enak.” Kataku berpura-pura mengunyah.
                “Ayo, dedek juga maem.” Kataku sambil berganti menyuapinya.
                “Kunyah… kunyah… baik-baik, lalu telan. Hap. Masih ada.” Kataku sambil menyanyikan lagu ciptaanku yang lazim digunakan saat menyuap anak-anak.
                Marita terkekeh sambil membuka mulutnya. Dia tampak senang. Alhamdulillah, tampaknya yang sakit bukan giginya tapi bagian gusi atau karena sariawannya. Terima kasih ya Allah, anakku sudah bisa tersenyum lagi. Tambah pinter ya sayang. Semoga jadi anak sholehah dan selalu jadi kebanggaan ayah dan Bunda. 

(Tamat) 


Saat menghadapi anak yang rewel karena sakit gigi atau sedang tidak nyaman. Kita harus benar-benar sabar. Mengontrol emosi bukan perkara mudah. Namun saat emosi berbicara, jangan sampai kita melakukan hal-hal yang membuat kita menyesal di kemudian hari. Nikmati apa yang sudah dianugerahkan pada kita, sakit, sehat, kaya, miskin, itu semua adalah nikmat yang Allah bagi untuk kita. Semoga kita bisa menjalani hari dengan bersyukur. Amin.
 



#BerkaryaUntukKeabadian #OneDayOnePOst #MenulisSetiapHari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
rame, suka ngobrol