Sehari bersama Marita
Marita
tampak gelisah. Sejak Mas Ridi berangkat kantor sembari mengantar Areta, Marita
sama sekali tak mau ditinggal. Baju kotor sudah masuk mesin cuci tinggal
dibilas. Cucian piring sarapan tadi pagi masih belum tersentuh, masih menumpuk
di wastafel. Hmm, kalo aku tak sedang sakit gigi lain persoalan. Tapi kali ini
menghadapi Marita yang tak nyaman membuatku sedikit kesal. Namun aku hanya bisa
menahannya. Toh siapa pula yang akan menolongku. Memang sejak awal aku selalu
menolak saat ditawarin assisten rumah tangga. Selama ini aku masih bisa
mengurus semuanya sendiri.
Akhirnya
demi mengurangi rasa sakit ini, aku pun segera meminum pereda sakit. Marita
tampak kusut duduk di depan tivi. Mainan masak-masakannya berserakan, tak
satupun dia sentuh. Untungnya tadi aku sempat merebus air untuknya mandi.
Setidaknya badannya tak terlalu lengket setelah bangun tidur. Aku pun tak
selera untuk sarapan. Padahal sebelum berangkat, suamiku sudah mengingatkan
agar jangan sampai terlambat makan. Aku memang suka lalai untuk urusan makan,
yang penting urusan rumah beres perut pun terasa kenyang. Ini sich menurutku.
Apalagi saat gigi senut-senut seperti sekarang, makanan enak pun terasa tak ada
minat.
Aku
nyalakan VCD kesukaan Marita, lagu anak-anak. Perhatiannya mulai teralih.
Tangan dan kepalanya bergoyang mengikuti irama. Alhamdulillah sakit gigiku pun
mulai berkurang. Dia tampak menikmati alunan penyanyi cilik di tivi. Perlahan
aku beranjak ke dapur. Mulai mencuci piring kotor yang beberapa lama tak
terjamah, mulai membilas satu persatu baju di mesin cuci. Baju anak-anak
sengaja ku pisahkan dari bajuku dan suamiku, tujuannya agar memudahkan saat menjemur.
Setelah semua beres, aku kembali menghampiri Marita. Dia masih asyik bergoyang,
sesekali tangannya memainkan wajan dan sendok plastic diatas kompor yang juga plastic.
Gayanya serius seperti tengah memasak. Tampaknya karena terlalu sering
menemaniku di dapur saat memasak, dia pun mahir menirukan.
“Mam,
Nda. Mam.” Katanya sambil menyodorkan sendok seolah sedang menyuapiku.
“Aem,
aem. Enak.” Kataku berpura-pura mengunyah.
“Ayo,
dedek juga maem.” Kataku sambil berganti menyuapinya.
“Kunyah…
kunyah… baik-baik, lalu telan. Hap. Masih ada.” Kataku sambil menyanyikan lagu
ciptaanku yang lazim digunakan saat menyuap anak-anak.
Marita
terkekeh sambil membuka mulutnya. Dia tampak senang. Alhamdulillah, tampaknya
yang sakit bukan giginya tapi bagian gusi atau karena sariawannya. Terima kasih
ya Allah, anakku sudah bisa tersenyum lagi. Tambah pinter ya sayang. Semoga
jadi anak sholehah dan selalu jadi kebanggaan ayah dan Bunda.
(Tamat)
Saat menghadapi anak yang rewel karena sakit gigi atau
sedang tidak nyaman. Kita harus benar-benar sabar. Mengontrol emosi bukan
perkara mudah. Namun saat emosi berbicara, jangan sampai kita melakukan hal-hal
yang membuat kita menyesal di kemudian hari. Nikmati apa yang sudah
dianugerahkan pada kita, sakit, sehat, kaya, miskin, itu semua adalah nikmat
yang Allah bagi untuk kita. Semoga kita bisa menjalani hari dengan bersyukur.
Amin.
#BerkaryaUntukKeabadian #OneDayOnePOst #MenulisSetiapHari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar