Bulan Maret (1)
Tantangan Minggu 1 tentang Burung,
Presiden, Flasdisk dan Kopi
Peringatan Ulang tahun penikahan kami yang
kedelapan ini ingin ku buat berbeda. Kalo sebelumnya setiap kali akan dirayakan
dengan membuat masakan beramai-ramai. Lalu makan bersama di kebun belakang.
Kali ini aku mengajak Mas Ridi memberikan kejutan untuk si kecil. Mengajak
mereka tamasya ke Prigen, Pandaan.
Sejak beberapa hari ini kami berdua
mempersiapkan segala sesuatunya secara sembunyi-bunyi. Tiket masuknya lumayan
mahal, karena itu untuk kesana kami sengaja tidak memilih saat liburan sekolah.
Mas Ridi pun sengaja meminta cuti dikantornya, beruntung pekerjaannya tidak
terlalu banyak. Aku pun sudah meminta ijin kepada Bu Suci, guru wali kelasnya
Arita. Beliau hanya berpesan agar hari Sabtu nanti jangan lupa mengumpulkan
tugas tentang tulisan Presiden
Indonesia, untuk mata pelajaran IPS.
Bekal juga sudah kupersiapkan. Apalagi
sejak mereka kecil aku membiasakannya untuk terbiasa dengan makanan olahanku
sendiri. Ribet dan kewalahan. Tapi saat mereka menyantap dengan lahap, aku
sungguh terharu. Untuk tamasya kali ini aku membuat nughet sayuran, ayam
pom-pom, kentang goreng. Ada jelly stik dan jeruk peras yang telah aku bekukan
sebelumnya. Mereka selalu menyukainya. Ditempatkan dalam wadah-wadah seukuran
cup ice cream dan menikmatinya dengan sendok kecil. Minumannya aku siapkan teh
hangat, air putih, juga susu. Dan yang tidak boleh ketinggalan adalah tempat
minumnya. Tumbler bergambar burung
hantu, warna kuning untuk Areta dan warna merah untuk Marita.
Untuk Mas Ridi kubuatkan kopi hitam kesukaannya. Benar-benar
hitam karena hanya kopi hitam dan
tanpa gula. Kumasukkan dalam gelas khusus, hadiah ulang tahunnya beberapa waktu
yang lalu. Untukku sendiri aku tidak menyiapkan apa-apa. Bagiku asalkan
kebutuhan mereka sudah siap untukku tidak penting.
Hari yang ditunggu pun tiba. Sejak pagi
Arita sudah kubangunkan. Karena dia sudah pandai berbenah diri kubiarkan dia
bersiap. Tentu saja sebelumnya telah aku pilihkan baju yang hendak di pakai
tamasya. Benar saja dia pun bertanya.
“Loh Bunda, kok pakai baju bagus? Kita mau
kemana? Areta ndak sekolah?” tanyanya.
“Ada kejutan buat kalian berdua, Ayah dan
Bunda mau mengajak ke Prigen. Mau kan?” Kataku sambil merapikan bajunya yang miring
kiri kanan.
“Hah… Prigen? Naik mobil Bunda? Asyik. Tapi
mobil siapa?”
Brrm…brmmm…
“Nah mobilnya udah datang.”
Areta segera berlari keluar. Disana telah
ada Mas Ridi dan Pak Jayeng, sopir rental langganan kami.
“Wah, naik mobil Pak Dhe. Asyik. Makasih
ayah.”
Niatku membangunkan Marita pelan-pelan,
setelah semua persiapan beres. Tetapi rupanya teriakan Areta mengagetkannya.
Marita pun menangis.
“Cup, cup sayang… Kita mau jalan-jalan
Dedek ikut ndak?”
Mendengar kata jalan-jalan, tangisannya pun
terhenti.
“Alan-alan.
Au. Au.” (Jalan, jalan. Mau. mau)
Dengan sigap aku membawanya ke kamar mandi
dan memandikan dengan air hangat yang sudah aku siapkan. Dan tak beberapa lama
Marita pun siap berpetualang.
Ayah menyiapkan bawaan yang akan diangkut
ke mobil, Pak Jayeng menunggu dengan sabar.
Setelah aku memeriksa tak ada yang
ketinggalan, barang-barang pun dimasukkan.
Saat menemani Marita, dia seperti teringat
sesuatu. Duduknya tak nyaman. Ada apa gerangan.
“Ebek.. ebek..” Bebek? Memangnya kami mau
bawa bebek?
Tapi kali ini Areta lebih sigap. Olala
ternyata maksudnya adalah flashdisk
yang ada gantungan bebek plastik. Flashdisk
itu berisi lagu anak-anak yang selalu diputar setiap aku menemani Marita.
Untunglah mobil Pak Jayeng memang bisa menggunakan flashdisk untuk memutar music.
Setelah semua pintu dan jendela di chek.
Kami pun siap berangkat. Bismillah, semoga perjalanan hari ini lancar. Amin.
#OneDayOnePost #MenulisSetiapHari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar