Senin, 29 Februari 2016

Areta & Marita (Episode yang telah lama terlupakan) Tantangan ODOP (3)

Tantangan ODOP (3)

Membuat analogi

Areta & Marita
(Episode yang telah lama terlupakan)

Selalu ada saja yang ingin kutulis melihat tingkah polah dua peri kecilku ini. Namun entah, aku selalu merasa kehabisan waktu. Saat bersama mereka, waktu berlalu begitu cepat. Tapi kali ini aku tak akan membiarkan waktu meninggalkanku. Kebersamaan bersama buah hatiku adalah impianku sejak dulu saat kami belum menikah.

Dalam bayanganku, aku akan merawat anak-anakku dan membesarkannya sendiri. Benar-benar sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi tentu saja suamiku harus selalu ada bersamaku.
Aku bersyukur mendapat suami yang pengertian. Dia mengerti kerepotanku saat Marita mengganggu Areta yang sedang belajar atau keusilan Areta menyembunyikan mainan adiknya. Dia tidak marah karena saat itulah aku akan mengacuhkan dia. Bukan, bukan aku sengaja. Hanya saja aku tidak ingin periku yang cantik, salah satunya akan terluka.

Areta memang sudah bersekolah, tetapi dia masih membutuhkan aku untuk menemaninya belajar. Adapun Marita, masih terlalu kecil jika kubiarkan tidur sendirian di kamar tanpa kutemani. Aku tak mau nyamuk-nyamuk nakal itu menyisakan ruam-ruam di kulitnya yang lembut.

Seperti hari ini, Areta pulang sekolah dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagaknya seperti bunga yang lama tidak disiram. Layu sungguh tidak menarik. Aku diam saja sambil mengajak Marita bernyanyi Pelangi. Setelah meletakkan tas dan mengganti bajunya, Areta menghampiriku.

“Bunda, kenapa sich Allah itu menciptakan banjir?” tanyanya dengan muka ditekuk.

Aku kaget dengan pertanyaan itu. Bagaimana mungkin anak kelas 2 SD sampai berpikiran seperti itu? Tampaknya ada sesuatu di sekolahnya yang menggelitik pikiran peri kecilku ini.

“Areta kenapa Tanya seperti itu? Tadi di sekolah banjir?”

“Bukan Bunda. Tadi ada pelajaran IPA. Bu guru ngasih liat gambar orang-orang yang rumahnya kebanjiran. Areta kasihan, kalo banjir tidurnya dimana? Rumahnya aja tenggelam ndak kelihatan. Mau makan ga ada meja makannya, kan susah Bunda.”

“Oh jadi karena itu. Tadi Ibu guru menjelaskan ke Areta seperti apa?”

“Kata Bu Guru, banjir itu karena kita membuang sampah sembarangan. Terus ada hujan deraaaas banget. Akhirnya selokannya penuh makanya banjir.”

“Berarti dari cerita Areta tadi, yang salah siapa?”

“Manusia.” Jawabnya polos.

“Manusianya kan? Itu artinya pertanyaan nya bukan kenapa Allah menciptakan banjir, tetapi kenapa manusia membuang sampah sembarangan sehingga saat hujan bisa terjadi banjir. Allah menciptakan hujan juga ada maksudnya.”

“Biar tanaman bisa minum ya Bunda?”

“Nah tuh pinter anaknya Bunda. Hujan itu adalah rejeki yang diberikan Allah kepada semua makhluk. Nah banjir itu adalah salah satu akibat karena kelalaian manusia. Sudah paham sayang?”

“Iya Bunda. Makasih ya. Berarti kalo waktu hujan, Areta maen hujan-hujanan boleh ya? Kan biar dapet rejekinya Allah?”

“Wah ternyata ada maunya ya?” kataku sambil menggelitik Areta.

Marita yang melihat ku menggelitik kakaknya segera ikut menyerbu.
 
#BerkaryaUntukKeabadian
#OneDayOnePost #MenulisSetiapHari (Hutang Februari)


4 komentar:

  1. Waduhhh... Anak SD jaman sekarang kritis2 ya mbak. Emaknya harus lebih pintar dalam menjawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. semoga bisa jadi pelajaran buat para emak-emak agar terus belajar

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir... semoga bermanfaat

      Hapus

Mengenai Saya

Foto saya
rame, suka ngobrol