Hari ini cuaca tak bersahabat, hujan mengguyur sedari pagi. Aku bukan orang kantoran atau orang yang hanya ada di belakang kemudi. Motor butut ini yang setia menemani kemana pun aku pergi. Sementara tumpukan paket menatapku ingin segera berjumpa dengan tuannya. Huff, kalo ada pekerjaan lain. Aku tak akan memilih jadi penyambung pesan orang.
Bekerja sebagai kurir bukan hal yang mudah. Ada saja yang dikirim oleh klienku. Kapan hari ada yang minta untuk mengirimkan sebuah box yang sangat besar, buat bawa saja aku kesusahan. Begitu sampai ke penerima ternyata isinya dacron, semacam kapas yang digunakan untuk membuat bantal. Lain waktu ada yang minta aku mengantarkan kucing yang akan beranak ke dokter hewan, bukannya mengirim paket itu, aku malah jadi dokter hewan sehari. Aku tidak tahu kalo kucing itu akan beranak, alhasil box ku harus kurelakan untuk menjadi kandang sementara sang kucing anak-anaknya.
Setiap hari aku selalu berdoa agar tidak mengirimkan barang yang aneh-aneh lagi. Tapi ternyata Tuhan belum mendengar doaku. Hari ini aku aku harus mengantar setumpuk paket pada sebuah alamat yang belum pernah kusinggahi. Dan hujan sudah mengguyur sejak pagi. Beruntung aku memiliki dua jas hujan. Satu yang berbentuk ponco kupakaikan pada paketan dalam box. Aku sendiri mengenakan setelan jas hujan kuning.
Lelah juga mengendara dalam hujan. Meski tak deras, namun aku pun harus berhati-hati. Kubangan dimana-mana, mana tahu kalo ada yang lobang. Terperosok badan tak masalah asalkan bukan paket yang akan aku kirimkan.
Akhirnya aku memilih berhenti sejenak di sebuah gardu siskamling. Rambut cepak ku basah sedikit ujungnya. Memakai jas hujan tak terlalu membantu. Mungkin sudah waktunya punya adik lagi. Hmm, tunggu nanti sajalah. Pandanganku beralih ke dinding pos yang berlubang-lubang. Tampak titik-titik kecil bergerak-gerak. Aku penasaran. Ternyata barisan semut sedang membawa makanan. Cuaca dingin tak menghalangi mereka, meski terantuk satu sama lain tetap berjalan dengan membawa beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Aku menoleh sekali lagi melihat paket yang melambai-lambai. Semut saja tetap bertahan membawa beban yang lebih besar dari badannya, kenapa aku tidak bisa. Aku penyambung pesan dari orang lain, dengan fasilitas yang lebih dari para semut. Tapi aku masih belum juga bersyukur.
Sejenak aku teringat, sebuah ayat yang dulu suka sekali dibacakan ibu sebelum tidur "Fa biayyi ala irobbikuma tukaddzibaan". Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan.
Mungkin saat ini aku hanya mampu memakai motor butut, siapa tahu lain waktu aku akan bisa menikmati duduk di mobil yang empuk. Tentu jika aku bisa bersyukur. Menikmati apa yang aku milikii sekarang. Terima kasih semut. Telah mengingatkanku untuk kembali bersyukur. Gerimis pun telah reda. Sabarlah sobat aku akan segera mempertemukanmu dengan tuanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar