Akibat disepelekan orang lain.
“Ah bikin kayak gitu sich gampang” atau “Masak gitu aja gak
bisa, emang bisanya apaan? ”
Setiap dari kita pasti pernah mendengar kata-kata itu
ditujukan pada diri kita sendiri ataupun untuk orang lain. Ada rasa jengkel setiap
kali mendengarnya. Kenapa bisa begitu?
Sudah kodratnya manusia tidak suka disepelekan. Manusia atau
bahkan makhluk lainnya memiliki kecenderungan untuk dipuji. Saat manusia
berhasil memperoleh pencapaian dalam hidupnya, dia akan merasa bangga apalagi
jika mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain. Seperti juga binatang yang
juga merasa senang saat bisa melakukan permintaan majikannya. Tak jarang
makanan kesukaan ataupun gelitik diberikan sebagai bentuk penghargaan.
Namun bagaimana jika bukan sanjungan yang diterima, tetapi
pernyataan menyepelekan. Apa yang akan kita lakukan?
Pertama, jelas kita akan merasa sedih. Sedih karena dianggap
tidak mampu melakukan sesuatu hal yang bagi orang lain adalah hal yang mudah
Kedua, jika kita bisa berpikir jernih, maka pernyataan
menyepelekan itu adalah lecutan semangat yang justru harus membuat kita lebih
baik lagi
Ketiga, mulai introspeksi tentang keadaan diri. Menimbang
baik dan buruknya pernyataan itu. Jika yang disampaikan memang sebuah kritik
pedas yang membangun, apa salahnya untuk diterapkan.
Tetapi jika itu hanya
omongan orang iseng ga penting yang hanya ingin membuat kita jatuh, maka
lupakan. Buang aja ke laut (ups) kembali ke point 2. Anggap itu sebagai lecutan
semangat
Keempat, tunjukkan bahwa kita mampu melakukan yang terbaik.
Maka kegiatan apapun yang kita lakukan harus dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya.
Empat poin penting (bagi saya) dapat dijadikan sebagai
masukan saat kita menghadapi pendapat orang lain yang dimaksudkan untuk
meruntuhkan semangat kita. Semoga setelah ini kita bisa berkarya lebih baik
lagi. Jangan pernah menutup diri dari masukan atau kritikan orang lain, karena
itu semua terjadi sebagai wujud perhatian yang diberikan mereka kepada kita.
Jadikanlah sebagai lecutan untuk maju dan berkarya.
Berkarya untuk keabadian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar