Karya Mbak Dwi Andayani (Episode 2)
“Biar suatu
saat nanti tulisanku itu jadi sejarah ya, Bang. Bahwa sejatinya penulis itu
memiliki banyak kesalahan. Dia belajar dari kesalahannya tersebut”.
Itu adalah kalimat dari Mbak Dwi yang sempat saya kutip.
Sebuah kalimat sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Anak kecil saja
untuk bisa berjalan dan berlari perlu puluhan, ratusan dan entah berapa kali
dia harus terjatuh. Seperti juga seorang penulis. Untuk bisa menghasilkan karya
yang bagus, perlu berlatih dan berlatih. Perlu menyiapkan diri dengan adanya
penolakan dari penerbit, perlu siap bathin ketika dia memilih menjadikan
tulisan sebagai pekerjaan.
Tapi menjadi penulis, bukan berarti dia tidak bisa memiliki
pekerjaan lain. Ada banyak di luaran sana seorang dokter sekaligus penulis,
seorang guru tapi bukunya best seller, dan banyak profesi lainnya. Pada intinya
setiap pekerjaan adalah baik selama itu masih dikategorikan halal dan tidak
merugikan orang lain.
Pernah saya mendengar sebuah pengajian yang sampai sekarang
sering saya jadikan pegangan. Kurang lebih isinya seperti ini.
“Celakalah
bagi mereka yang tidak memiliki manfaat bagi orang lain”.
Bahkan agar pesannya bisa diterima pendengar, sang ulama
sampai mengibaratkan dengan tanaman.
JIka kita memiliki pohon yang sudah berumur, namun tidak
memiliki buah maka apa yang kita lakukan? Tentu kita akan menebangnya, dan
menggantinya dengan pohon yang baru. Begitu juga dengan manusia, ibaratnya
ketika kita tidak bisa memberikan manfaat bagi orang lain maka orang lain pun
tidak akan menyadari keberadaan kita. Ada ataupun tiadanya kita tidak memberi
pengaruh bagi orang lain. Naudzubillah, jangan sampai kita masuk dalam golongan
orang-orang tersebut.
Amin.
Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat bagi orang lain. Dan
mengingatkan kita untuk melakukan hal yang bermanfaat .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar