Selasa, 16 Februari 2016

#ODOP #Februari #Membara #Karya Mbak Dwi Andayani (Episode 3)

Karya Mbak Dwi Andayani (Episode 3)

Ilmu itu ternyata memang bisa kita peroleh, bahkan terkadang dari orang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal. Masih seputar bedah karya ODOP. Berikut sedikit saya sertakan revisi yang disarankan oleh Bang Syaiha terkait karya yang dibahas.

1.       Tentang pemilihan kata pada paragraph
Mbak Dwi
a.    Di Surabaya ini aku dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki karakter dengan pekerjaan yang berbeda. Dan pastinya caraku menyikapi mereka juga berbeda. Berbeda cara menyikapi bukan bermaksud membeda-bedakan tapi ini untuk interaksinya yang berbeda antara aku dengan mahasiswa, pejabat, dan lain-lain. Di sini saya berbicara dengan petugas kebersihan, penjual gorengan, penjual nasi kuninng, penjual es, penjual mie, dan penjual makanan lainnya.

Bang Syaiha
b.      Di tempatku tinggal, Surabaya, ada banyak orang yang memberikanku pelajaran berharga. Orang itu bisa darimana saja. Ada peugas kebersihan, penjual gorengan, pedagang nasi kuning, penjaja es keliling, dan sebagainya. Selain memiliki pekerjaan yang tidak sama, karakter mereka juga berbeda. Sehingga, mau tidak mau, aku pun harus bisa menempatkan diri, bagaimana melakukan komunikasi pada semuanya.

Perbaikan:
Di atas terdapat dua tulisan, a dan b. Tulisan a adalah karya orisinil penulis, sedangkan tulisan b adalah revisi atau tulisan yang disarankan. Ada beberapa poin yang bisa kita ambil, antara lain:
Perlu diperhatikan pilihan katanya. Penggunaan kata ‘berbeda” yang berulang-ulang terasa kurang nyaman saat dibaca. Alangkah baiknya jika dipilih kata lain yang memiliki makna sama dengan ‘berbeda’.
·         Berbeda = tidak sama = berlainan
·         Penjual = penjaja = pedagang

2.       Agar tulisan (terutama karya fiksi) lebih mudah untuk dipahami pembaca, kita harus memperhatikan penokohan. Dari tokoh kita bisa membuat pembaca merasa terlibat atau tidak terlibat.  Tokoh dalam cerita fiksi terkadang dapat memberi kita pelajaran hidup. 

Berikut adalah contoh peranan tokoh pemberi pelajaran hidup

Sebut saja namanya Poniyem, beliau adalah penjual gorengan yang sering nangkring di depan tempat ku tinggal. Jika diperhatikan, usianya pasti sudah mencapai kepala lima. Umurnya yang tentu tdak bisa ladi dibilang muda. Lihat saja, satu dua rambutnya sudah memutih, kulit wajahnya sudah mengeriput, dan salah satu giginya sudah ada yang tanggal. Pertanda beliau sudah renta.


Setiap kali melihatnya, bapak itu selalu mengenakan pakaian berwarna orange. Berdiri di pinggir jalan dengan sapu lidi ynag sudah ada tangkainya, membersihkan sampah, dan kotoran yang berserakan. Ia tidak pernah lelah melakukan pekerjaan iitu seharian. Pernah ku tanyakan padanya mengapa bisa demikian antusian membersihkan jalan, ia bilang, “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi mbak?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
rame, suka ngobrol