Karya Mbak Dwi Andayani (Episode 3)
Ilmu itu ternyata memang bisa kita peroleh, bahkan terkadang
dari orang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal. Masih seputar bedah
karya ODOP. Berikut sedikit saya sertakan revisi yang disarankan oleh Bang
Syaiha terkait karya yang dibahas.
1.
Tentang pemilihan kata pada paragraph
Mbak Dwi
a. Di Surabaya ini aku dipertemukan
dengan orang-orang yang memiliki karakter dengan pekerjaan yang berbeda. Dan pastinya caraku menyikapi
mereka juga berbeda. Berbeda cara menyikapi bukan bermaksud membeda-bedakan tapi ini untuk
interaksinya yang berbeda antara aku dengan mahasiswa, pejabat, dan lain-lain.
Di sini saya berbicara dengan petugas kebersihan, penjual gorengan, penjual
nasi kuninng, penjual es, penjual mie, dan penjual makanan lainnya.
Bang Syaiha
b.
Di tempatku tinggal, Surabaya, ada banyak orang
yang memberikanku pelajaran berharga. Orang itu bisa darimana saja. Ada peugas
kebersihan, penjual gorengan, pedagang nasi kuning, penjaja es keliling, dan
sebagainya. Selain memiliki pekerjaan yang tidak sama, karakter mereka juga
berbeda. Sehingga, mau tidak mau, aku pun harus bisa menempatkan diri,
bagaimana melakukan komunikasi pada semuanya.
Perbaikan:
Di atas terdapat dua tulisan, a dan b. Tulisan a adalah
karya orisinil penulis, sedangkan tulisan b adalah revisi atau tulisan yang
disarankan. Ada beberapa poin yang bisa kita ambil, antara lain:
Perlu diperhatikan pilihan katanya. Penggunaan kata
‘berbeda” yang berulang-ulang terasa kurang nyaman saat dibaca. Alangkah
baiknya jika dipilih kata lain yang memiliki makna sama dengan ‘berbeda’.
·
Berbeda = tidak sama = berlainan
·
Penjual = penjaja = pedagang
2.
Agar tulisan (terutama karya fiksi) lebih mudah
untuk dipahami pembaca, kita harus memperhatikan penokohan. Dari tokoh kita
bisa membuat pembaca merasa terlibat atau tidak terlibat. Tokoh dalam cerita fiksi terkadang dapat
memberi kita pelajaran hidup.
Berikut adalah contoh peranan tokoh pemberi
pelajaran hidup
Sebut
saja namanya Poniyem, beliau adalah penjual gorengan yang sering nangkring di
depan tempat ku tinggal. Jika diperhatikan, usianya pasti sudah mencapai kepala
lima. Umurnya yang tentu tdak bisa ladi dibilang muda. Lihat saja, satu dua
rambutnya sudah memutih, kulit wajahnya sudah mengeriput, dan salah satu
giginya sudah ada yang tanggal. Pertanda beliau sudah renta.
Setiap
kali melihatnya, bapak itu selalu mengenakan pakaian berwarna orange. Berdiri
di pinggir jalan dengan sapu lidi ynag sudah ada tangkainya, membersihkan
sampah, dan kotoran yang berserakan. Ia tidak pernah lelah melakukan pekerjaan
iitu seharian. Pernah ku tanyakan padanya mengapa bisa demikian antusian
membersihkan jalan, ia bilang, “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi
mbak?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar